PERKEMBANGAN DAN PROSES PERTUNJUKAN TARI TOPENG CIREBON





Hallo guys… Kali ini saya ingin membuat artikel yang membahas tentang perkembangan tari topeng dan bagaimana proses pertunjukannya. Sebelum baca artikel ini, lebih baik kalian membaca artikel sebelumnya yang sudah saya terbitkan di blog ini.

Secara filosofis Topeng Cirebon adalah simbol dari penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia pada masa purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan itu adalah hal yang tidak membedakan antara Pencipta dengan ciptaan, karena ciptaan  memiliki arti bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal. Yang dimaksudkan Sang Hyang Tunggal itu sendiri adalah ketidak-berbedaan dalam diri-Nya ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka dari keberagaman. Dan keanekaan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi.

Sang Hyang Tunggal ini mengandung semua sifat dari ciptaan. Karena semua sifat yang dikenal manusia itu saling bertentangan, maka dalam diri Sang Hyang Tunggal semua pasangan oposisi kembar tadi hadir dalam keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diri-Nya sehingga sifat itu tidak dikenal manusia alias kosong mutlak. Paradoksinya justru kosong itu kepenuhan sejati karena dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu penuh, penuh itu kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tidak ada perbedaan, tunggal mutlak.

Tari Topeng Cirebon menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diri-Nya dalam pasangan-pasangan kembar yang saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan lautan. Konsep tersebut digambarkan lewat Tari Panji yang merupakan masterpiece atau hasil karya dari rangkaian lima tarian Topeng Cirebon. Meskipun ditampilkan pertama tetapi tarian Panji justru merupakan klimaks dari pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi Sang Hyang Tunggal menjadi semesta. Dari yang tunggal belah menjadi yang aneka dalam pasangan-pasangan.

Inilah sebabnya Kedok Panji tidak dapat kita kenali secara pasti apakah itu perwujudan lelaki atau perempuan. Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya sama sekali putih bersih tanpa hiasan, itulah kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan Gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Itulah puncak Topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu.

Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diri-Nya kedalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni “Pamindo-Rumyang” dan “Patih-Klana”. Itulah sebabnya Kedok “Pamindo-Rumyang” berwarna cerah, sedangkan “Patih-Klana” berwarna gelap (merah tua). Gerak Tari “Pamindo-Rumyang” halus keperempuan perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak “dalam” (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak “luar”. Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan Bulan. tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah panji mengandung unsur-unsur tarian Panji.

Topeng Cirebon merupakan salah satu jenis tarian ritual yang amat sakral. Tarian ini sama sekali bukan tontonan hiburan. Itulah sebabnya dalam kitab-kitab lama disebutkan, bahwa Raja menarikan Panji dalam dalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan Topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para Dalang Topeng di daerah Cirebon. Tarian juga harus didahului oleh persedian sajian. Dan sajian itu bukan persembahan makanan untuk Sang Hyang Tunggal. Sajian adalah lambang-lambang dualisme dan pengesahan. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai Bedak, Sisir, Cermin, yang merupakan lambang Perempuan, didampingi oleh Cerutu atau Rokok sebagai lambang Lelaki. Bubur Merah lambang dunia Manusia, Bubur Putih lambang dunia Atas. Cowek Batu yang kasar sebagai lambang Lelaki, Buah Jambu lambang Perempuan. Air Kopi lambang Dunia Bawah, Air Putih lambang Dunia Atas, Air Teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.

Pada mulanya, pergelaran seni Tari Topeng dan Wayang Kulit di Keraton Cirebon selalu berdampingan erat. Pergelaran Topeng pada siang hari dan Wayang Kulit pada malam harinya dilakukan oleh orang yang sama. Dengan demikian, Dalang Topeng pada siang hari adalah seorang laki-laki yang merangkap sebagai Dalang Wayang Kulit pada malam harinya. Disamping itu, kesenian ini dahulunya biasa digelar pada upacara-upacara adat yang diselenggaraan masyarakat seperti Mapag Sri, Sedekah Bumi, Ruwatandan lain-lain.

Selanjutnya, Tari Topeng menjadi salah satu seni pertunjukkan jenis tarian yang memiliki bentuk penyajian tersendiri yang disebut “Topeng Babakan” atau “Topeng Binaan” yang para Penarinya memekai Kedok atau Topeng sebagai penutup muka, biasanya Kedok atau Topeng yang ditampilkan pada satu kali pertunjukkan Topeng terdiri dari: Panji, Pamindo (Samba), Rumyang, Tumenggungdan Klana (Rahwana).

      Dan dalam pertunjukan atau penampilan Tari Topeng Cirebon biasanya ada lakon, alat musik berupa Gamelan dan busana khusus yang perlu disiapkan. Lakon yang ditampilkan biasanya: Jaka Bluwo, Jaka Simping, Jaka Menyawak, Jaka Penjaring, Jaka Buntet dan lain-lain. Waditra atau alat musik adalah Gamelan berlaras “Pelog”, “Salendro” atau “Parwa” yang terdiri dari: Kendang dua buah, Kendang kecil dua buah, Saron kecil (Titil), Bonang, Kenong dan Jengglong, Beri, Saron dua set, Tutukan dan Kebluk, Kelenang, Kedemung (Selentem), Kempul dan Gong, Keprak, Seruling (Bangsing) dan Kemanak.

Busana dan tata rias Topeng Cirebon meliputi: Baju lengan pendek, Celana Sontog, Kain panjang, Kerodong Juana, Soder (Sampur), Kece, Dasi, ulu Krah, Kalung Mute Katok (tutup rasa), Badong, Gelang, Sobrah (Tekes), Sumping, Ombyok, Jenggel Pet, Keris dan Kedok atau Topeng.
Sebelum seorang Penari menarikan Panji (tari pertama), ia mengucapkan mantra di depan kotak penyimpanan kedok-kedok. Mantra itu hanya diberikan oleh Guru kepada muridnya.
Mantra juga tidak ada gunanya kalau Dalang belum meuseuh (menyucikandiri). 
Sebagian isi mantra tersebut berbunyi:
Sumerah maring Allah
Sakapindo maring Rasulullah
Kang ana ning wetan
Sunuhun Gunung Jati
Kang sume kang ana Gunung Jati
Nyi rangga asmara
Kang anama sang Hyang Permana
Kang ana ning kulon
Sang tunggul putih
Kang anama kesamadtullah
Kula titip pandita 40 kang asih nikmat ding badan
Kula titip maring Abdulmutalib
Cuan lamun ora dijaga bending
Kenang bendunge Allah Ta’ala
Allahumma bisrokhman
Mil suci saking umat
Kangjeng nabi Muhammad
Allahumma sotiamin
Nyuwun ning pangeran bonang
Pangeran panggung minta diraksa
Sajabane sajerone panggung

Kalimat mantra diatas mempunyai arti sebagai berikut:
Pasrah (berserah diri) kepada Allah
Yang kedua kepada Rasulullah
Yang ada di timur Sunan Gunnung Jati
Yang tersenyum ada Sunan Gunnung Jati
Nyi Rengga Asmara
Yang bernama Sanghyang Permana
Yang ada di Barat
Sang Tunggal Putih
Yang bernama kasamadtullah
Saya titip Pandita 40
Yang mengasihi nikmat di badan
Mantra diatas berfungsi untuk membantu daya tahan tubuh dan kekuatan para Penari dalam menarikan tari-tarian yang banyak itu.

Gimana guys, kalian jadi tau mengenai bagaimana proses pertunjukan dari Tari Topeng dan perkembangan dari Tari Topeng Cirebon kan? Jangan lupa tetap ikutin perkembangan artikel-artikel yang ada di blog ini, okay?




Pict by: https://budayajawa.id/wp-content/uploads/2018/04/Tari-Topeng-Cirebon.jpg

You Might Also Like

0 Comments