ASAL-USUL GAYA DALAM TARI TOPENG
Menurut Babad Tanah Losari diceritakan
bahwa Pangeran Angkawijaya pergi ke Losari dari kesultanan Cirebon menepi dari
kehidupan Keraton karena tidak ingin terkungkung dengan sistem kehidupan
kesultanan yang serba gemerlap. Selain itu, menepinya Pangeran Angkawijaya dari
kesultanan Cirebon karena adanya konflik Internal soal perjodohan antara
dirinya dengan kakaknya yakni Panembahan Ratu.
Saat itu Panembahan Ratu yang termasuk
kakak Angkawijaya hendak menikahi putri dari Raja Pajang yakni Nyai Mas
Gamblok, sebenarnya putri Gamblok lebih menyukai Pangeran Angkawijaya, tetapi
karena urutan usia, Panembahan Ratu yang lebih tua menyatakan berhak mengawini
Nyai Mas gamblok, menghindari hal yang tidak dinginkan terjadi, Pangeran
Pangeran Angkawijaya lalu pergi ke arah timur dari tanah Cirebon hingga menetap
di daerah pedukuhan pinggir sungai Cisanggarung yang akhirnya dinamakan Losari,
dari tempat ini kemudian Pangeran Angkawijaya mengembangkan keterampilannya di
bidang seni, beberapa hasil kreasinya diyakini adalah batik Cirebon motif
Gringsing dan tari Topeng Cirebon gaya Losari.
Pangeran Angkawijaya tercatat meninggal
pada tahun 1580 dan dimakamkan di desa Losari lor, kecamatan Losari, kabupaten
Brebes.
Tari Topeng Cirebon gaya Brebes sebenarnya
merupakan tari Topeng Cirebon gaya Losari yang mendapatkan banyak pengaruh
lokal, termasuk dari segi alur ceritanya.
Babak tarian.
Tari Topeng Cirebon gaya Brebes merupakan
jenis tari Topeng Cirebon yang berkembang di wilayah kecamatan Losari,
kabupaten Brebes yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa.
Tari Topeng Cirebon gaya Brebes
menceritakan legenda Joko Bluwo, seorang pemuda petani desa yang berwajah buruk
rupa berkeinginan untuk mempersunting putri raja yang cantik jelita bernama
Putri Candra Kirana. Dikisahkan, keinginan Joko Bluwo akhirnya dikabulkan sang
raja, setelah Joko Bluwo memenuhi syarat yang diajukan Raja. Namun, di tengah pesta pernikahan, seorang
raja dari kaum raksasa yang juga berkeinginan menikahi putri Candra Kirana
datang dan membuat kekacauan. Dia mengajak bertarung pada Joko Bluwo untuk
memperebutkan sang putri. Joko Bluwo akhirnya berhasil mengalahkan raja raksasa
dan hidup bahagia bersama putri Candra Kirana.
- Tari Topeng Cirebon gaya Celeng
Tari Topeng Cirebon gaya Celeng merupakan
salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang penyebarannya berpusat di blok (bahasa
Indonesia: dusun) Celeng, desa Loh Bener, kecamatan Loh Bener, kabupaten
Indramayu. Lagu atau musik pengiring yang digunakan
pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Celeng ternyata memiliki kesamaan
dengan musik pengiring yang dipergunakan pada gaya Gegesik dan Slangit namun
dengan beberapa kekhasan tersendiri, misalnya pada tetaluan (bahasa Indonesia:
tabuhan gamelan) Kembang Sungsang jika gongnya ada dua maka nada yang dimainkan
adalah miring dan susul saja, sedangkan jika terdapat tiga gong, tetaluan
kembang sungsang nada yang dimainkan adalah miring, susul dan sanga.
- Tari Topeng Cirebon gaya Cibereng
Tari Topeng Cirebon gaya Cibereng merupakan
ragam tari Topeng Cirebon yang ada di desa Cibereng, kecamatan Trisi, kabupaten
Indramayu.
- Tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara
Tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara
merupakan salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang wilayah penyebarannya berada
di sekitar kecamatan Pegaden hingga ke bantaran sungai Cipunegara yang
merupakan perbatasan dengan kabupaten Indramayu. Perkembangan kebudayaan di
wilayah Cipunegara (termasuk di sebagian besar daerah dataran rendah kabupaten
Subang) tidak terlepas dari kontribusi masyarakatnya. Tari Topeng Cirebon gaya
Cipunegara ini oleh masyarakatnya disebut sebagai tari Topeng Menor, karena
kemerduan suara dan kecantikan para penarinya.
Pusat tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara
berada di desa Jati, kecamatan Cipunegara dan desa Gunung Sembung, kecamatan
Pegaden, kabupaten Subang. Dikarenakan desa Jati terkenal sebagai salah satu
pusat tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara, maka tari Topeng Cirebon gaya
Cipunegara ini juga dikenal dengan nama tari Topeng Jati. Berbeda dengan musik pengiring tari Topeng
Cirebon yang terdapat di wilayah kabupaten Cirebon dan kabupaten Indramayu yang
menggunakan instrumen musik bernuansa khas Cirebonan seperti Gamelan cirebon
dan sejenisnya. Pada tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara, musik pengiringnya
justru menggunakan musik-musik Bajidoran yang merupakan seni khas kebudayaan
Sunda di kabupaten Subang dan kabupaten Karawang.
- Tari Topeng Cirebon gaya Gegesik
Tari Topeng Cirebon gaya Gegesik memiliki
daerah penyebaran di sekitar kecamatan Gegesik, kabupaten Cirebon. Pada tari
Topeng Cirebon gaya Gegesik yang paling terlihat berbeda adalah raut
karakteristik topengnya. Topeng Panji pada gaya Gegesik digambarkan dengan
karakteristik wajah berwarna putih dengan raut tenang, mata sipit dengan
tatapan yang selalu merunduk tajam, hidung mancung dan senyum yang terkulum.
Pada perkembangan sebuah kesenian termasuk
tari Topeng Cirebon gaya Gegesik, perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat
dihindari. Perubahan yang terjadi pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik
kebanyakan dipengaruhi oleh struktur masyarakat urban serta berperannya sekolah
kesenian, modernisasi, peristiwa, politik dan perubahan pandangan pewaris
topeng, terutama sekitar tahun 1980 hingga tahun 2000. Perubahan tari Topeng
Cirebon gaya Gegesik terutama terjadi pada cara dan bentuk penyajiannya,
sehingga pada masa itu pertunjukan topeng dicampur dengan dangdut atau yang
oleh masyarakat disebut sebagai topeng-dangdut. Lagu atau musik pengiring yang digunakan
pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Gegesik ternyata memiliki kesamaan
dengan musik pengiring yang dipergunakan pada gaya Slangit, berikut nama-nama
musik pengiringnya ;
Tetaluan, dikenal juga dengan nama gagalan
merupakan tabuhan gamelan yang dimainkan sebelum penari atau dalang topeng
muncul pada panggung tari.
Kembang Sungsang, merupakan lagu pengiring
yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Panji.
Singa Kawung, merupakan lagu pengiring yang
digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Samba.
Tumenggungan, atau dikenal dengan nama
bendrong merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran
tari Topeng pada babak Tumenggung atau Patih.
Kembang Kapas, merupakan lagu pengiring
yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Rumyang.
Gonjing, merupakan lagu pengiring yang
digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Klana.


0 Comments