TARI TOPENG CIREBON GAMBARAN HIDUP MANUSIA





  Perayaan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, setiap pada tanggal 17 Agustus, kadang memacu perorangan, instansi pemerintah atau pihak swasta, dan sebagainya, dengan menampilkan berbagai atraksi atau pameran, untuk ikut memeriahkannya. Maka tidak aneh pula, agar partisipasi perayaan dianggap meriah dan memikat, ditampilkan sesuatu yang dianggap ganjil. Sesuatu yang dianggap baru dan benar-benar menarik perhatian. Untuk memeriahkan dirgahayu Republik ini, kadang kala di beberapa komplek suka menampilkan kesenian khas dari daerah tersebut, yakni Tari Topeng. Di komplek Gg. Teladan juga suka menampilkan kesenian Tari Topeng setiap hari Kemerdekaan. Tidak tanggung-tanggung, salah satu penarinya pun seorang wanita bule. Agar diketahui dan dipuji penduduk komplek lain, ketua RT memerintahkan anak buahnya menyiarkan ke komplek-komplek sekitar, menggunakan pengeras suara.

Ketika pertunjukkan berlangsung, penduduk komplek Teladan dan komplek-komplek lainnya, terheran-heran melihat seorang wanita asing di daerah mereka. Lebih membuat heran lagi, wanita asal Amerika Serikat itu, mahir menarikan tari topeng babak demi babak. Peristiwa yang terjadi 1972 itu, menunjukkan betapa tarian salah satu kekayaan budaya Indonesia ini, sebenarnya telah menggugah rasa ingin tahu bangsa-bangsa lain. Sejak tahun itu, komplek Teladan sering didatangin calon penari atau penari betulan dari luar negeri, terutama Amerika Serikat. Mereka datang baik sekedar menambah pengetahuan, atau berguru dan berlatih langsung di komplek itu. Selesai mempelajarinya, pengetahuan luar dalam tarian tersebut, dibawa jauh ke negara asal. Entah untuk dikembangkan ataupun lebih diperdalam lagi. Atau mungkin juga diciptakan kreasi baru,dengan segala improvisasi baru pula.

Penduduk komplek Teladan, kini tidak lagi heran, jika komplek mereka didatangi pria atau wanita kulit putih. Karena telah berkali-kali komplek yang terletak di Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, didatangi "wong welanda-wong welanda" itu. Komplek Teladan memang salah satu pusat kesenian tradisional tersebut. Hingga tidak aneh, apabila menarik para pemerhati Tari Topeng.

Komplek ini memang dianggap sebagai tempat cikal bakal, pembawa tarian tunggal tersebut ke daerah Cirebon. Diperkirakan, sejak jaman para wali mengembangkan ajaran agama Islam dulu. Keturunannya masih ada di Gg. Teladan, dan hingga kini tetap menekuni warisan budaya leluhur ini. Keturunan yang masih setia membawakan dan menekuni tari topeng adalah sanak keluarga almarhum Ardja, yang tetap tinggal di komplek itu. Tiga orang anak kandungnya, sampai kini masih tetap setia menggeluti, yakni Sudjaya, Sudjana, dan Keni. Bahkan keahlian menari topeng, telah diwarisi sebagian dari anak-anak mereka.

Tari Topeng Cirebon, merupakan salah satu darisekian banyak jenis tari yang mempunyai kekhasan tersendiri. Tari Topeng Cirebon terdiri dari lima babak, yang berkaitan satu sama lain, dan melambangkan berbagai karakter manusia. Lima babak dalam tarian ini terdiri atas, Tari Panji, Samba, Rumyang, Patih/Tumenggung, dan Kelana. Jenis-jenis tarian ini secara filsafat menggambarkan kehidupan manusia.
  • Tari Topeng Panji, yakni jenis tarian tari topeng yang merepresentasikan sosok manusia yang baru lahir dan penuh dengan kesucian sehingga gerakannya halus dan lembut. Jenis tarian ini dianggap sebagai gabungan dari hakikat gerak dan diam yang terkandung sebagai filosofi Tari Topeng Cirebon. Selain itu warna putih pada topeng Panji itu memiliki arti kesucian juga. Yang berarti bayi baru lahir tidak memiliki dosa.
  • Tari Topeng Samba, yakni jenis tarian Tari Topeng yang merepresentasikan fase perkembangan manusia saat mulsi memasuki dunia kanak-kanak yang digambarkan dengan gerakan yang lincah, luwes, dan lucu.
  • Tari Topeng Rumyang, yakni jenis tarian Tari Topeng yang merepresentasikan fase kehidupan manusia saat memasuki usia remaja atau akhil balig. Dimana pada fase itu manusia akan menentukan mau menjadi sosok yang yang baik atau sosok yang jahat.
  • Tari Topeng Tumenggung, yakni jenis tarian Tari Topeng yang merepresentasikan kedewasaan seorang manusia yang penuh dengan kebijaksanaan dan sosok prajurit yang tegas, penuh dengan dedikasi, kesetiaan, dan kepahlawanan.
  • Tari Topeng Kelana atau Rahwana, yakni jenis tarian Tari Topeng merupakan representasi visualisasi watak manusia yang serakah dan penuh dengan amarah dan ambisius. Sifat-sifat inilah yang merupakan sisi gelap manusia dan biasa ada di dalam diri manusia sehingga digambarkan dengan gerakan yang tegas, ambisius, dan penuh dengan ambisi duniawi.
Selain Topeng Panca Wanda diatas, pada era sebelum 70-an terdapat topeng-topeng lain sebagai pelengkap babak dalam pagelaran tari Topeng Cirebon. Diantara topeng-topeng pelengkap adalah Tembem, Pratajaya, Prasanta, Sabdapalon, Pentul, Sadugawe, Nayagenggong/Gareng, Sentingpraya, serta Ngabehi Subakrama.

Waktu yang diperlukan untuk keseluruhan tarian ini, sekitar lima jam. Dan agar tarian lebih hidup serta penarinya dapat menyatu, diperlukan bermacam sesajian. Namun kadangkala, pementasan seluruh babak yang komplit dengan semua lakon tarian, terbentur masalah waktu. Karena sempitnya waktu, lima babak tarian itu dibawakannya dalam waktu yang dipadatkan, sekitar satu jam. Kesulitan lain membawakan tarian ini, murni lima babak dengan komplit, dialami saat bersama kelompoknya mengisi pementasan di tempat-tempat hajatan orang yang menggunakan kelompoknya. Atau pada saat mengisi acara-acara resmi, baik di keraton-keraton di Cirebon ataupun di instansi-instansi pemerintah. Hanya sekadar untuk menarik perhatian, dan agar "tetap laku", Tarian babak-demi babak ini, diselingi dagelan dengan bodoran Pertunjukan ini pun dilakukan kelompok-kelompok kesenian yang sama lainnya. Alasannya sama, agar "tetap laku" dan ditonton. Ada semacam "rasa gundah" dan "rasamenggugat",perasaan yang timbul tentang kelestarian kesenian tradisional khas Cirebon tersebut. Banyak faktor memang, namun yang paling dirasakan adalah perhatian dari yang berkompeten, yang dirasakan masih kurang. Salah satu di antaranya, ketiadaan sanggar seni yang cukup representatif dalam upaya pembinaan.

Tari Topeng sampai saat ini masih hidup dalam dunia seni masyarakat Cirebon, dalam bentuk kelompok-kelompok kesenian yang tumbuh di kampung-kampung. Terbanyak tetap di Komplek Teladan, yang dianggap sebagai tempat cikal bakal kesenian itu lahir. Selebihnya kesenian ini menyebar pula ke komplek Gegesik, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, yang dianggap masih punya pertalian erat leluhur dengan Selangit. Dapat disebut pula kelompok-kelompok kesenian itu di Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, Palimanan dan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Dan ada satu lagi di Losari, Kabupaten Cirebon. Namun di tempat terakhir ini, tidak dikenal pementasan dalam babak demi babak, tetapi dalam bentuk cerita. Selain itu menurun Sudjana Ardja,Tari Topeng masih dilestarikan lewat latihan di beberapa sanggar seni di kota Cirebon. Tidak ketinggalan pula, Tari Topeng diajarkan di ASTI (Akademi Seni Tari Bandung). Djana pun merupakan salah satu dosen panggil diakademi itu. Meski diakuinya, kini hanya sebagai salah seorang penguji, yang hanya datang sekali waktu bila diperlukan. Seperti halnya ketika dia hanya diperlukan, sebagai salah seorang yang dianggap mampu memperagakan serta menunjukkan bahwa Tari Topeng masih ada dan tetap hidup. Menunjukkan bahwa tarian itu adalah salah satu peninggalan kesenian tradisional di negara ini, yang perlu dilestarikan.

You Might Also Like

0 Comments