TEKNIK MEMAINKAN TOPENG TERHADAP EKSPRESI DAN VARIASI




  • Nafas, bagi seorang penari adalah sesuatu hal yang sangat menentukan berhasil tidaknya ia membawakan tariannya. Oleh sebab itu Ibu Ratu Dewa Melinda atau yang dipanggil  bu Ratu sering melakukan pengaturan nafas ini yang terkait dengan aspek spiritual.   Sebagai contoh, puasa adalah salah satu aspek penting supaya nafasnya menjadi baik. Ibu Ratu Dewa Melinda sendiri mengakui bahwa cara bernafas dalam menarikan topeng, faktor kesulitannya adalah saat menggigit kedok. Mengigit kedok akan sangat mudah seandainya cara menarik nafasnya dilakukan melalui rongga mulut. Dengan demikian, cara yang baik ketika menarik nafas yaitu melalui perut. Dari beberapa karakter tarian topeng, topeng Panji dirasakan yang paling berat. Walaupun geraknya kecil-kecil dan sangat minimalis, ternyata di dalamnya memiliki cara pernafasan yang cukup menyita tenaga dan cukup berat, terutama pada saat menahan gerak yang posisinya banyak terdiam diri.
  • Aksen atau tekanan, Selanjutnya menjalankan apa yang disebut aksentuasi. Aksen atau tekanan yaitu penggunaan tenaga yang tidak merata, ada bagian gerak yang hanya sedikit menggunakan tenaga, tetapi ada pula yang banyak menggunkan tenaga. Ibu Ratu Dewa Melinda mempunyai alasan yang sangat mendasar ketika memberikan aksen pada gerak-gerak tertentu. Menurutnya, bahwa ada beberapa ragam gerak yang telah dipelajari dari ayahnya, namun setelah dilakukan beberapa lama ternyata gerakannya terasa lembek, kurang tenaga (terutama dalam tari topeng Klana). Misalnya, pada ragam jangkahan, atau gedig langkah kaki pada gerakan ini pada awalnya kurang bertenaga. Maka pada saat kaki (baik kaki kanan maupun kaki 36 kiri) lebih diberi tenaga, sikap kedua pun yang tadinya berada di bawah bahu, oleh Ibu Ratu Dewa Melinda diangkat dan sejajar dengan bahu. Ayunan tangan yang tadinya kurang bertenaga akhirnya oleh Ibu Ratu Dewa Melinda diberi tenaga.
  • Kreativitas, adalah kegiatan mental yang sangat individual sebagai manifestasi kebebasan manusia sebagai individu. Kreativitas menerjunkan seseorang ke dalam keadaan ambang, yaitu keadaan yang ada dan belum ada seseorang yang kreatif selalu dalam kondisi kacau, rincuh, kritis, gawat, mencari-cari mencoba-coba untuk menemukan sesuatu yang belum pernah ada dari tatanan budaya yang pernah dipelajarinya. Dalam kreativitas diperlukan keberanian yang kreatif. Bukan terbatas pada keberanian dalam menghadapi dirinya dalam keadaan gawat, tetapi juga keberanian dalam menghadapi kebudayaannya, lingkungannya, masyarakat, dunia, dan sejarah. Ibu Ratu Dewa Melinda adalah sosok dalang topeng yang termasuk manusia yang dibekali kemampuan kreativitas yang cukup tinggi. Ia sangat berani menghadapi resiko, yaitu resiko antara berhasil dan tidak berhasil dalam pencarian sesuatu yang belum pernah ada. Apabila hasil kreativitasnya tidak diterima masyarakat, maka ini diaggap tidak berhasil. Kenyataannya, Ibu Ratu Dewa Melinda telah berhasil melahirkan kreativitasnya. Hasilnya diperlihatkan pada orang tuanya ketika masih hidup dan mendapat tanggapan yang positif. Orang tuanya menyarankan agar tetap kreatif. kamu boleh mengubah gerak tari asal jagan merusak ragam-ragam gerak yang sudah ada. Dalam menghadapi keambangan tadi, Ibu Ratu Dewa Melinda banyak diilhami para dalang topeng yang telah dianggap idolanya, yakni dalang topeng Warimah dan Sureh. Ibu Ratu Dewa Melinda tertarik pada ragam-ragam gerak yang penuh dengan tekanan (dalam topeng Tumenggung dan Klana), terutama dalam jangkahan atau gedig. Ia mengakui bahwa ragam jangkahan yang telah diwariskan ayahnya dinilai kurang gagah atau lembek. Dan pengalamannya melihat, lalu diterapkan pada tari topeng Tumenggung dan Klana sehingga ragam gerak itu pun telah menjadi sesuatu yang baru. Secara teknis, ragam gerak jangkahan yang telah diajarkan ayahnya adalah sebagai berikut saat melangkah kaki (dimulai dengan melangkahkan kaki kanan), ruang gerak agak sempit tekanan gerak kaki lemah ataupun kurang menekan. Sikap kedua tangan di bawah bahu. Ayuanan kedua tangan pun terasa sempit kurang menunjukan gerak gagah. Desain ruang gerak kaki saat melangkah kaki lebih melebar dan membuat garis lengkung, aksen kaki yang berada pada tumit yang diberi tenaga, berkesan keras dan gagah, yang diimbangi oleh ayunan kedua tangan yang diangkat sejajar dengan bahu, dengan desain ruang cukup lebar. Dengan demikian, perpaduan langkah kaki dan ayunan tangan berkesan gagah dan lebih ekspresif. Ketertarikan pada penampilan Sureh, menurut pengakuan Ibu Ratu Dewa Melinda terletak pada tetegn-nya (bisa bermakna kekuatan ekspresi sesuai dengan penjiwaannya). Salah satu contoh ada pada permainan irama. Menurut pengakuan Ibu Ratu Dewa Melinda, apabila ia melihat penamampilan topeng Klana yang dibawakan Sureh, kelihatannya terasa gagah dan mantap. Adapun gerak yang dipilih untuk diubah yaitu gerak alihan yakni nglarap yang diakhiri sikap gerak adeg-adeg ngola gulu. Setelah sering melihat penampilan dalang topeng Sureh, maka gerak alihan yang dibawakan Sureh sering ditiru oleh Ibu Ratu Dewa Melinda yang pada dasarnya sama dengan dalang topeng pada umumnya. Hanya saja ketika kaki sudah melangkah yang diakhiri dengan sikap adeg-adeg tadi, Sureh tidak melakukan gerak ngerasuk (terap kedok), tetapi dengan mengejar irama yang cepat. Secepat kilat Sureh melangkah mundur tiga kali dengan arah badan serong sambil tolak pinggang, pandangan lebih dengah (melihat keatas) diakhiri dengan adeg-adeg serong. Gerak alihan inilah yang kemudian Ibu Ratu Dewa Melinda ditiru  dan selalu di pakai hingga sekarang. Dalang topeng Sureh, terkenal dengan penampilannya yang gagah dan ekspresif, terutama dalam membawakan topeng Klana. Hal yang menarik dari kepiawan Ibu Ratu Dewa Melinda adalah justru gerakan hasil melihat dari dalangtopeng Warimah dan Sureh tadi dilakukan ditempat pertunjukan. Tidak ada proses latihan seperti halnya para penari sekarang ini yang selalu berlatih  terlebih dahulu sebelum menuju pertunjukan sebenarnya. Itulah apa yang disebut dengan gawe jogetan atau improvisasi yang telah dibicarakan sebelumya.
  • Interpretasi atau Tafsiran, adalah proses komunikasi melalui lisan atau gerakan antara dua atau lebih pembicara yang tak dapat menggunakan simbol-simbol yang sama, baik secara simultan (dikenal sebagai interpretasi simultan) atau berurutan (dikenal sebagai interpretasi berurutan). Menurut definisi, interpretasi hanya digunakan sebagai suatu metode jika dibutuhkan. Jika suatu objek (karya seni, ujaran, dll) cukup jelas maknanya, objek tersebut tidak akan mengundang suatu interpretasi. Istilah interpretasi sendiri dapat merujuk pada proses penafsiran yang sedang berlangsung atau hasilnya. Suatu interpretasi dapat merupakan bagian dari suatu presentasi atau penggambaran informasi yang diubah untuk menyesuaikan dengan suatu kumpulan simbol spesifik. Informasi itu dapat berupa lisan, tulisan, gambar, matematika, atau berbagai bentuk bahasa lainnya. Makna yang kompleks dapat timbul sewaktu penafsir baik secara sadar ataupun tidak melakukan rujukan silang terhadap suatu objek dengan menempatkannya pada kerangka pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Tujuan interpretasi biasanya adalah untuk meningkatkan pengertian, tetapi kadang, seperti pada propaganda atau cuci otak, tujuannya justru untuk mengacaukan pengertian dan membuat kebingungan. Kedudukan seorang koreografer dan penari adalah sama. Keduanya didudukan sebagai seniman. Hal ini berarti menunjukan kedua sama-sama mempunyai intrepretasi atau penafsiran. Seorang penari tanpa memiliki sebuah intrepretasi berarti mempunyai kesan yang bersifat mekanis. Bagai robot yang hanya bisa bergerak apabila dikendalikan remote control. Demikian pula dengan Ibu Ratu Dewa Melinda. Ia tidak hanya menghafal secara teks dan menari sebatas hafalan dari urutan A sampai Z. Ia pun tidak hanya menari sesuai  dengan susunan gerak dan sesuai dengan urutan karakteristik, akan tetapi ia menari dengan mengungkapkan ekspresinya melalui interpretesi itu sendiri dapat di lakukan berdasarkan atas beberapa konsep, latar belakang, sosial budaya, kontekstual, gendre dan gaya dan tinjauan atas pokok masalah yang di ungkapkan. Sebuah intepretasi dapat dikatakan tak ada yang paling benar. Namun, seseorang kritikus biasanya dapat memberikan tekanan pada kaitan antar elemen yang berbeda: formal, representasional, ekspresif dan historis.


Pict by: 


You Might Also Like

0 Comments