GERAKAN TARI DAN SANGGAR CIREBON
Gerakan tari
pada gaya Gegesik dapat dilihat pada pemaknaan gerak di masing-masing alur
ceritanya, di antaranya adalah gerakan tangan temple bahu dan cantel pada alur
cerita topeng Panji. Gerakan
tangan temple bahu diartikan sebagai tiruan dari gerak jalan Dewi Anggraeni
sementara gerakan cantel dapat diartikan bahwa Raden Panji akan berhasil
menikahi Dewi Anggraeni.
Babak Tarian
Pada gaya
Gegesik, babak (alur cerita) tariannya hampir sama dengan babak tarian yang ada
di gaya-gaya tari Topeng Cirebon wilayah barat, penamaan babak pada pementasan
tari Topeng Cirebon pada wilayah barat hanyalah mengambil namanya saja untuk
menggambarkan kesamaan watak, para dalang topeng Cirebon pada umumnya tidak
mengaitkan tariannya dengan tokoh Panji seperti dalam cerita Panji. Artinya,
nama tari tersebut bukan sebagai gambaran tokoh Panji. Kata Panji hanya
dipinjam untuk menyatakan salah satu karakter tari yang halus, yang secara
kebetulan karakternya sama dengan tokoh Panji. Berbeda dengan di Losari, Topeng
Panji justru ditarikan dalam sebuah lakonan dan penarinya benar-benar memerankan
tokoh Panji seperti yang ada di cerita Panji.
Perbedaan
babak antara tari Topeng Cirebon gaya Gegesik dengan Slangit yang sama-sama
berasal dari kabupaten Cirebon wilayah barat terletak pada susunan babaknya,
jika pada gaya Gegesik babak rumyang ditampilkan pada urutan keempat atau
kelima, maka pada gaya Slangit babak tersebut ditampilkan pada urutan ketiga.
Berikut babak pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik ;
Panji, menceritakan karakter manusia yang baru lahir, topeng Panji pada gaya Gegesik
digambarkan sebagai watak dari karakter manusia yang halus, karakter ini sering
disamakan dengan karakter Arjuna pada cerita Mahabharata.
Samba
(pamindo), menceritakan karakter anak-anak
Rumyang,
menceritakan karakter manusia yang bergejolak menuju kedewasaan
Patih
(tumenggung), menceritakan manusia yang sudah dewasa
Klana,
menceritakan manusia yang dursila (memiliki emosi dan amarah jahat di dalam
dirinya)
Sebagian
budayawan Cirebon yang menyimak keterangan Ki Rawita (maestro tari Topeng
Cirebon gaya Randegan) bahwa babak rumyang seharusnya ditarikan pada bagian
akhir kemudian menyatakan hal yang sama jika pada zaman dahulu babak rumyang
pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik juga ditarikan pada akhir pagelaran sama
dengan yang terjadi pada gaya Randegan, hanya saja para budayawan Cirebon
kurang mengingat kapan terjadinya peralihan babak rumyang yang sebelumnya
ditarikan di akhir babak menjadi di tengah babak pada pagelaran tari Topeng
Cirebon gaya Gegesik. Ki Waryo (maestro kesenian Cirebon sekaligus dalang tari
Topeng Cirebon gaya Palimanan) berpendapat bahwa peralihan babak rumyang dari
akhir pagelaran menjadi babak di tengah pagelaran diperkirakan terjadi pada
periode tahun 1970-an di mana pada periode tersebut para dalang tari Topeng di
Cirebon banyak didatangi oleh para peneliti dan kemungkinan para peneliti ini
memberikan persfektif baru bagi para dalang Topeng terutama dalang tari Topeng
Cirebon gaya Gegesik sekaligus mengubah persfektif tariannya dari semula
berfokus pada perkembangan jiwa yang merupakan ciri dari pementasan tari Topeng
Cirebon dengan babak rumyang di akhir menjadi berfokus pada pertumbuhan manusia
secara fisik yang merupakan ciri dari pementasan tari Topeng Cirebon dengan
babak rumyang di tengah.
Sanggar Purbasari, Padepokan Abdul Ajib,
jalan Sukasari gang 4 no. 30. Kelurahan Sukapura, kecamatan Kejaksan kota
Cirebon.
- Tari Topeng Cirebon gaya Gujeg
Tari Topeng Cirebon gaya Gujeg tersebar
disekitar desa Gujeg, kecamatan Panguragan, kabupaten Cirebon.
- Tari Topeng Cirebon gaya Kalianyar
Tari Topeng Cirebon gaya Kalianyar sama
seperti gaya Gujeg yang berada di dalam wilayah kecamatan Panguragan, gaya
Kalianyar terpusat disekitar desa Kalianyar, wilayah pusat penyebaran gaya
Kalianyar ini hanya dipisahkan oleh kali Winong disebelah timur dengan desa
Gujeg dan hanya beberapa kilometer ke selatan dari wilayah ini sudah dapat
ditemui gaya Slangit di desa Slangit dan gaya Kreyo di desa Kreyo.
- Tari Topeng Cirebon gaya Kreyo
Tari Topeng Cirebon gaya Kreyo terpusat di
desa Kreyo, kecamatan Klangenan, kabupaten Cirebon yang hanya terpisahkan
dengan desa Slangit disebelah timur oleh ruas jalan antar kecamatan yang
menghubungkan kecamatan Klangenan dengan kecamatan Panguragan. Pada masa jayanya, gaya Kreyo memiliki
seorang dalang tari Topeng yang terkenal, dia bernama Tarmi atau biasa dikenal
dengan nama dalang Tarmi, sekarang yang ada hanyalah dalang Tumus, tetapi dia
lebih sering menjadi nayaga (penabuh gamelan) kelompok tari Topeng Cirebon
milik dalang Keni Arja (seorang maestro Topeng Cirebon gaya Slangit)[13]
sebagai penabuh saron penimbal.
- Tari Topeng Cirebon gaya Losarang
Tari Topeng Cirebon gaya Losarang memiliki
daerah penyebaran inti di kecamatan Losarang,Kabupaten Indramayu
- Tari Topeng Cirebon gaya Losari
Tari Topeng Cirebon gaya Losari memiliki
daerah penyebaran di sekitar kecamatan Losari, kabupaten Cirebon dan kecamatan
Losari, kabupaten Brebes, menurut maestro tari Topeng Cirebon Irawati Ardjo,
lokasi Losari yang berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah membuat tari Topeng
Cirebon gaya Losari banyak dipengaruhi elemen-elemen budaya jawa, keterangan
serupa juga diberikan oleh Dr. Een Herdiani dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia
(STSI) Bandung, menurut dia perbedaan yang menjadi ciri khas tari Topeng
Cirebon gaya Losari ada pada musik pengiringnya, gerakan tari dan pakaian
penarinya.


0 Comments